REKONSTRUKSI AKAL MENUJU INSAN KAMIL



REKONSTRUKSI AKAL MENUJU INSAN KAMIL
Oleh: Hanif Fatkhur Aziz

cara menjadi manusia sempurna
Manusia adalah khayawanun natiq (hewan yang diberikan akal). Artinya, manusia adalah makhluk dalam bentuk yang paling sempurna dimana memiliki ciri atau karakteristik khusus yang membedakan dengan makhluk yang lain dengan kepemilikan akal untuk berpikir. Ini adalah sebuah anugerah yang tak dimiliki oleh semua makhluk, dimana makhluk lain lebih cenderung bersifat instinkif atau menggunakan instingnya sebagai landasan bertidak dan mengembangkan diri. Namun, manusia memiliki akal yang dapat melahirkan pemikiran-pemikiran yang apabila mampu mengatasi nafsunnya, maka akan memberikan konstruksi kualitas yang baik bagi perkembangannya. Oleh karena itu, sudah semestinya akal yang telah diberikan digunakan dengan sebaik mungkin untuk melangkahkan diri menjadi insan kamil.
            Insan kamil ialah manusia yang mampu memposisikan diri sebagai insan yang bermanfaat bagi orang lain. Hal ini bisa diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, maupun bernegara. Berangkat dari salah satu tujuan pokok diciptakannya manusia yang tak lain adalah untuk menjadi khalifah di bumi, maka peran dan tanggung jawab hidup dalam kemasan sosial harus mengarah pada kemaslahatan bersama. Sehingga, manusia yang bermanfaat bagi orang lain adalah manusia yang memiliki keutamaan yang besar.
            Beranjak dari berbagai uraian diatas, realitas yang terjadi dimasa berkemajuan seperti sekarang ini belum mampu menunjukkan tercapainya atau terealisasinya tujuan terbentuknya masyarakat yang konstruktif dan kontributif dalm kebaikan. Karena permasalahan yang terjadi pada saat ini adalah hedonisme dan pragmatisme yang melanggar atau menyalahi akal sehat yang digariskan. Artinya, akal yang seharusnya digunakan untuk memilah-milah kebaikan untuk diterapkan dan menghindari keburukan untuk dihindarkan justru terperosok dalam kenikmatan sesaat yang tidak bermanfaat. Sehingga, fungsi akal yang diharapkan tidak sesuai dengan realita yang ada. 
            Menanggapi beberapa permasalahan yang ada tersebut, kesadara menjadi sangat penting kedudukannya untuk memulihkan atau merevitalisasi fungsi akal. Hal ini bisa dilakukan melalui pengintegrasian pendengaran, penglihatan, dan akal untuk menemukan solusi konkritnya. Melalui keterpaduan ketiga hal tersebut, manusia dapat memperoleh ilmu kauniyah yang bermanfaat sebagai bahan muhasabah untuk memperbaiki diri. Dengan mendengar seseorang akan tahu mana yang dapat memberikan kesan dan yang tidak. Kemudian, melihat akan menuntun pengetahuan suatu perilaku layak atau tidak layak untuk dilakukan. Dan yang terakhir, adalah sterilisasi dan filterisasi untuk memetik kebaikan dengan mendayagunakan akal secara positif. Dengan demikian, akal akan memberikan peran positif bagi perkembangan manusia.
            Menelik dari langkah tersebut, satu hal yang harus selalu diingat adalah apabila akal digunakan secara positif, maka akan memberikan dampak positif dan sebaliknya. Bahkan lebih buruknya dampak  kesalahan dalam penggunaan akal ini, manusia  dinyatakan sebagai hewan, atau malah lebih rendah darinya karena tidak memanfaatkan kelebihan berupa akal untuk hal yang baik. Maka, rekonstruksi akal yang telah melenceng untuk memberikan kesadaran fungsi yang benar adalah jalan untuk menuju insan kamil. Karena dengan akal sehat manusia akan memiliki kelebihan-kelebihan yang bisa bermanfaat bagi diri sendiri khususnya, dan orang lain pada umumnya. Tujuan untuk kemaslahatan bersama inilah yang menjadi tugas mulia, karena setiap manusia bisa disebut insan kamil apabila ia bisa mengarahkan diri dalam shiratal mustaqim sekaligus menjadi mutiara masyarakat dengan menjadi sirajan muniira. 
THINK FRESH IS THE WAY TO WIN
                   

Komentar